Archive for February, 2010
Winter’s Tail
It’s true what people said:
You never know what you have until it’s gone
Lebih dari 20 tahun gue hidup di negara tropis yang hampir setiap harinya dibanjiri dengan sinar matahari, pada saat itu seringkali gue mengeluh karena panasnya sinar matahari yang membuat gersang atau mengeluh karena sangking teriknya matahari selalu membuat tangan gue belang-belang karena pake motor nggak pake jaket.
Winter tahun ini gue hidup di Berlin dan menurut media yang gue baca, winter tahun ini merupakan winter yang panjang, lapisan putih menyelimuti kota sejak desember tahun lalu dan belum pernah meninggalkan kota barang sehari. Di saat ini lah gue sangat merasakan kehilangan sesuatu yang dulunya sering gue keluhkan, matahari.
Ada beberapa saat di bulan Januari kemarin, sekitar 2 minggu lamanya matahari tidak menampakan batang hidungnya sama sekali, ngebuat gue harus membangun motivasi extra untuk menjalani hari.
Hari ini kebetulan matahari udah mulai menampakan wajahnya, walaupun pagi ini bertemperatur hanya 1 derajat celcius tapi terasa begitu hangat setelah merasakan 2 bulan terakhir yang bertemperatur dibawah nol derajat. Dengan bermodalkan semangkok bubur kacang sisa pesta ulang tahun pacar kemaren, gue menyempatkan untuk menikmati pagi yang “hangat” ini.
-Berlin, penguhujung musim panas.
3 Variables in Life
Tau nggak bahwa ada 3 variable penting dalam setiap hidup seorang manusia?
Tenaga, Waktu dan Uang.
Gue lupa pernah baca ini dari mana, tapi tiba-tiba terlintas di kepala gue sore ini.
It goes like this:
Pada saat lo remaja, lo punya banyak tenaga, banyak waktu tapi sedikit uang.
Saat lo beranjak dewasa, lo bakalan punya banyak tenaga dan banyak uang, tetapi sayangnya lo nggak punya waktu.
Dan tiba saat lo tua, lo bakalan punya banyak uang dan waktu yang lebih dari cukup, tapi sayangnya lo udah nggak punya tenaga.
Jadi intinya, biar gimana, lo nggak bakalan punya ketiga variabel di atas secara bersamaan. Gue nggak tau ini bener apa nggak, tapi dua dari tiga pernyataan diatas benar adanya buat hidup gue.
- Berlin, penghujung winter.
Buku: Harus Bisa!

Suatu kebetulan ketika saya mengunjungi ruangan seorang kawan di kantornya, saya melihat buku ini tergeletak di atas meja masih lengkap dengan sampul plastiknya, belum disentuh sepertinya. Menurut dia buku itu adalah kenang-kenangan dari petugas aju (advance team) kepresidenan ketika kunjungan presiden RI sebulan lalu ke Berlin.
Melihat buku dengan cover SBY saya langsung tertarik untuk membaca, berhubung saya pikir kawan saya ini terlalu sibuk untuk membaca buku yang lumayan cukup tebal ini, lagi pula saya sudah beberapa bulan ini tidak pernah baca buku yang berupa kertas, biasanya ebook, itu pun tipis-tipis tidak setebal ini.
Pertama baca nama penulisnya, saya langsung mengerutkan dahi, “Siapa sih Dino?”. Di halaman awal-awal diceritakan bahwa dia adalah salah satu dari juru bicara kepresidenan yang bertanggung jawab untuk urusan internasional. Saya pikir juru bicara presiden cuman satu, si Andi berkumis baplang, ternyata bapak Andi si kumis ini cuman bertanggung jawab untuk hubungan dalam negeri dan setelah membaca lebih lanjut buku ini ternyata hubungan internasional negara Indonesia tidak kalah serunya dengan kompleksitas masalah yang ada di dalam negeri.
Kesan pertama yang saya tangkap ketika membaca buku ini adalah kesan subjektifitasnya yang sangat kental, sejauh pengertian saya, tidak ada satupun dalam buku ini yang menceritakan tentang kelemahan atau kekurangan dari presiden SBY. Saya pikir namanya manusia pasti ada sisi kesalahannya, dan hal ini sayang sekali tidak diangkat dalam buku yang banyak disertai foto-foto menarik ini. Padahal kan kalau memang tujuannya pembelajaran kita juga bisa belajar dari kesalahan-kesalahan para pemimpin.
